European Style Table Manner

Pada tanggal 5 Oktober 2016, mahasiswa teknologi pangan Universitas Surya mengikuti European Style Table Manner Workshop di Hotel Santika, BSD, Tangerang. Kami diajarkan mengenai cara menyantap makanan yang benar, mulai dari hidangan pembuka sampai hidangan penutup. Adapun menu yang ditawarkan meliputi butter and bread, bruschetta romana, tomato cream soup, chicken cordon bleu, dan tiramisu cake.

dining_1

Keterangan:

  1.  Side Plate
  2. Butter Knife
  3. Napkin
  4. Show Plate
  5. Salad Fork
  6. Dinner Fork
  7. Dinner Knife
  8. Soup Spoon
  9. Dessert Spoon
  10. Dessert Fork
  11. Glass
  12. Salad Knife

Posisi duduk harus tegap dan tidak menyender pada kursi. Lengan tidak boleh diletakkan pada meja, dan posisi menyantap tidak boleh menunduk atau mendekati makanan. Napkin diletakkan pada paha untuk mencegah makanan tumpah mengenai pakaian.

Pertama, kami diberikan roti dan mentega tawar yang diletakkan diatas side plate. Butter knife digunakan untuk mengoles mentega ke roti. Cara makan roti yang benar adalah dengan menyobek sedikit bagian dari roti dengan tangan tanpa mengangkat roti dari piring, setelah itu olesi mentega, dan dimakan.

Hidangan pembuka yang diberikan saat workshop adalah Bruschetta Romana. Secara garis besar, hidangan ini adalah roti kering (baguette) yang dipotong menyamping. Bagian atas roti diolesi salsa, yaitu potongan tomat segar dan ditaburi bubuk cabai. Cara makannya yaitu dengan menggunakan salad fork dan salad knife.

Untuk hidangan soup, peralatan yang digunakan hanya soup spoon. Sup disendok dari dalam ke luar (dari sisi tengah ke depan mangkuk). Hal ini dilakukan untuk menghindari sup tumpah mengarah pada orang yang sedang makan.

Hidangan utama kali ini adalah chicken cordon bleu, yaitu potongan ayam filet yang dibaluri dengan tepung roti, berisi potongan ham dan keju meleleh. Peralatan yang digunakan adalah dinner knife dan dinner fork. Dinner fork berukuran lebih besar dan lebih berat dibandingkan salad fork, dan dinner knife memiliki gerigi yang lebih tajam dibanding salad knife. Cara makannya sama seperti hidangan pembuka, yaitu dengan cara memotong ayam menjadi ukuran lebih kecil dan diambil menggunakan garpu ke mulut.

Tiramisu cake adalah hidangan terakhir sebagai penutup dari kegiatan workshop kali ini. Untuk menyantap kue dapat menggunakan dessert spoon, dessert fork, atau keduanya. Tidak ada cara khusus dalam menyantap hidangan penutup.

Secara keseluruhan, saya senang bisa mendapatkan kesempatan belajar table manner di Hotel Santika, BSD. Pelayanannya ramah, makanannya enak, dan ilmu yang diberikan sangat berguna.

Jamblang / Duwet

Buah jamblang (Syzygium cumini) umum dikenal dengan nama jamun, jaman, duhat (dalam bahasa Hindi), plum hitam, Indian blackberry, jambolan, plum jambolan, plum Jawa, plum Malabar, dan plum Portugis (Sharma, 2012). Syzygium cumini adalah buah tropikal dari famili jambua-jambuan (Myrtaceae) dan merupakan buah indigenus yang tumbuh dan banyak tersebar di India (Priya, 2013). Pohon jamblang mampu tumbuh dalam kondisi basah maupun kering, tetapi tidak dapat tumbuh di daerah yang sangat kering. Pohon ini juga mampu tumbuh di daerah lembab, basah (damp), dan di rawa-rawa. Baik banjir berkepanjangan maupun saat kekeringan, pohon jamblang mampu bertahan dan tetap tumbuh dengan baik.

Secara garis besar, buah jamblang terdiri dari bagian yang dapat dikonsumsi secara langsung (75%) dan tidak dapat dikonsumsi secara langsung (25%). Biji buah termasuk dalam bagian yang tidak dapat dikonsumsi secara langsung. Disisi lain, bagian yang dapat dikonsumsi terdiri atas air (80.80%), abu (0.70%), protein (0.81%), gula yaitu fruktosa dan glukosa (12.70%), kadar asam (sulfuric, 0.63% ; malic,  0.88%) (Swami, 2012). Berdasarkan penelitian serupa lainnya menyebutkan bahwa buah jamblang per 100 gram terdiri dari:

Tabel 1. Komposisi Buah Jamblang

Komponen Kadar
Energi 251 kJ (60 kcal)
Karbohidrat 15.56 g
Lemak 0.23 g
Protein 0.72 g
Air 83.13 g
Vitamin A 3 IU
Tiamin (B1) 0.006 mg
Riboflavin (B2) 0.012 mg
Niasin (B3) 0.260 mg
Pantotenat (B5) 0.160 mg
Piridoksal (B6) 0.038 mg
Vitamin C 14.3 mg
Kalsium 19 mg
Besi 0.19 mg
Magnesium 15 mg
Fosfor 17 mg
Kalium 79 mg
Natrium 14 mg

Selain itu, buah jamblang memiliki segudang manfaat yang baik untuk kesehatan. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Antioksidan. Beberapa senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan adalah flavonoid, tanin, antosianin, karotenoid, dan senyawa fenolik (De, 2015). Buah jamblang mengandung antosianin dalam jumlah yang sangat tinggi, dimana antosianin berkontribusi sebagai pigmen dan antioksidan, serta mencegah reaksi radikal bebas dalam tubuh (Swami, 2012). Disisi lain, kandungan flavonoid pada buah jamblang berperan sebagai anti-alergi, anti-inflamatori, anti-mikroba, dan memiliki aktivitas anti-kanker. Kandungan tanin pada buah juga berperan sebagai antioksidan yang mencegah reaksi oksidasi. Apabila dibandingkan dengan bagian buah, kadar tanin pada biji lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, kadar tanin pada biji mencapai 40% dimana kadar tanin pada buah hanya sebesar 5% (De, 2015). Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan pada biji lebih baik daripada daging buah jamblang. Menurut De (2015), buah dengan tinggi antioksidan dapat mencegah penyakit kardiovaskular, kanker, degeneratif syaraf, dan inflamasi.
  • Anti-diabetes. Biji buah jamblang memegang peranan penting sebagai anti-diabetes, yaitu mampu menurunkan kadar gula darah dan mencegah komplikasi diabetes seperti katarak dan neuropathy. Kandungan ellagitannin pada biji jamblang dalam kadar tinggi merupakan senyawa yang berperan sebagai anti-diabetes (Swami, 2012). Ellagitannin yang dimaksud meliputi corilagin, 3,6-hexa hydroxyl diphenoyl glucose, 4,6-hexahydroxy diphenoyl glucose, 1-galloylglucose, 3-galloylglucose, gallic acid, ellagic acid. Biji buah jamblang juga mengandung glycoside jamboline dan ellagic acid yang mampu mendeteksi adanya konversi pati menjadi gula ketika produksi glukosa sedang berlebih (Swami, 2012). Selain itu, ekstrak biji jamblang juga digunakan untuk mengobati pilek, batuk, demam, dan masalah kulit seperti ruam (De, 2015).
  • Anti-mikroba. Komponen bioaktif yang terkandung dalam kulit buah jamblang efektif dalam mencegah pertumbuhan sejumlah mikroba. Penelitian yang dilakukan oleh Priya (2013) menunjukkan bahwa ekstrak kulit jamblang menggunakan metanol, etil asetat, dan diklorometana efektif dalam menghambat pertumbuhan 14 jenis mikroba. Bakteri yang paling sensitif terhadap ekstrak kulit jamblang menggunakan metanol adalah E. faecalis, diikuti dengan P. vulgaris dan A. niger (Priya, 2013). Ekstrak kulit jamblang dengan etil asetat efektif dalam mencegah pertumbuhan E. faecalis, S. paratyphi, E. coli, dan C. albicans, namun tidak berfungsi untuk P. aeruginosa, B. subtilis, dan A. niger. Selain itu, ekstraksi menggunakan diklorometana efektif mencegah pertumbuhan bakteri gram positif seperti E. faecalis dan S. aureus, namun tidak terlalu efektif untuk bakteri gram negatif. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan dinding sel antara bakteri gram positif dan negatif. Ekstrak kulit jamblang menggunakan diklorometana tidak mampu bekerja pada B. subtilis, Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), E. aerogenes dan A. niger. Secara garis besar, ketiga metode ekstraksi kulit buah jamblang memiliki aktivitas anti-mikroba terhadap bakteri gram positif (B. cereus, S. aureus), bakteri gram negatif (E. coli, P. vulgaris, S. typhimurium, S. marcescens, S. paratyphi B), dan C. albicans (Priya, 2013). Metode ekstraksi yang paling efektif menurut penelitian Priya (2013) adalah menggunakan metanol.

 

Sumber:

De, B. (2015). A Comparative Analysis on Efficacy of Pulp, Peel, and Seed of Syzygium cumini and Mangifera Indica as Nutraceutical. International Journal of Nutrition and Agriculture Research, Vol. 2(1), 8-18.

Priya, S. S. (2013). In vitro antimicrobial activity of Syzygium cumini fruit peel and identification of anthocyanins. African Journal of Pharmacy and Pharmacology, Vol.7(25), 1719-1728.

Sharma, S. (2012). A Review on Pharmacological Activity of Syzygium cumini Extracts Using Different Solvent and Their Effective Doses. International Research Journal of Pharmacy, 54-58.

Swami, S. B. (2012). Jamun (Syzygium cumini (L.)): A Review of Its Food and Medicinal Uses. Fod and Nutrition Sciences, 1100-1117.

Pengolahan Pangan Tradisional Vs Modern

Seiring perkembangan zaman, teknologi juga berkembang. Sama halnya dengan pengolahan pangan, dahulu dan sekarang dapat terlihat perbedaannya.

Lalu, apa yang membedakan antara proses pengolahan dahulu dan sekarang?

Dahulu, proses pengolahan pangan masih tergolong minim dan kualitas pangan yang dihasilkan juga tidak sebaik sekarang. Contoh sederhana, adanya perkembangan teknologi memungkinkan terjadi adanya proses pengalengan. Proses pemotongan juga terlihat bedanya. Kini dapat ditemukan dengan mudah mesin pemotong otomatis, terutama di pabrik-pabrik daging modern. Melakukan panen saat musim panen juga bukan menjadi hal yang sulit lagi sejak ditemukannya mesin panen massal. Cukup dengan menggoyangkan dahan secara berkala, semua buah matang dapat jatuh dari pohon.

Proses pengolahan yang dilakukan secara tradisional masih banyak dilakukan dan masih menjadi bagian dari budaya. Seperti contoh, adu sapi yang dilakukan oleh masyarakat Toraja dan berakhir dengan pemotongan sapi yang kalah masih ada. Pemotongan sapi dilakukan secara spontan dengan pisau dan tidak ada proses pengolahan modern. Tetapi, lain hal dengan pabrik sosis yang memotong sapi menggunakan mesin-mesin canggih. Mulai dari proses pemotongan, pemisahan karkas, pengolahan, hingga penyimpanan di dalam cold storage dilakukan dengan teknologi yang modern.

Apabila diperhatikan, proses pengolahan secara tradisional umum dilakukan bukan dengan tujuan untuk menjual produk pangan hasil olahan. Seperti contoh, budaya yang dilakukan oleh masyarakat Toraja dan proses memasak menu makan di rumah masih menerapkan proses pengolahan tradisional. walaupun masih ada usaha kecil menengah yang menerapkan pengolahan tradisional yang sederhana.

Dengan adanya perkembangan teknologi, pengolahan pangan menjadi lebih mudah untuk dilakukan walaupun tidak menutup kemungkinan masih dilakukan proses pengolahan tradisional, terutama di rumah dan daerah terpencil.

Bacang

Bacang, atau yang juga dikenal dengan nama bakcang/Zòngzi/粽子, merupakan sebuah makanan tradisional khas Cina. Bacang terbuat dari ketan yang diisi dengan daging babi yang dimasak dengan kecap, kemudian dibungkus dengan daun bambu dan direbus.

Setiap tanggal 5 pada bulan 5 dalam penanggalan Cina, festival Peh Cun (Duan Wu Jie/端午節) dirayakan. Hari Peh Cun dirayakan untuk memperingati Qu Yuan.

Qu Yuan adalah seorang perdana menteri hebat yang dikenal atas kebaikan dan kebijakannya. Namun, ada sebagian orang yang tidak suka padanya dan mengatakan hal-hal buruk tentangnya sehingga raja mencabut jabatannya dan mengusir Qu Yuan. Qu Yuan sangat sedih dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan diri di Sungai Miluo. Setelah kepergian Qu Yuan, rakyat Cina menjadi sedih dan memutuskan untuk melindungi tubuh Qu Yuan agar tidak dimakan oleh ikan-ikan dengan cara melemparkan bacang ke sungai.

Pada suatu hari, seorang nelayan bermimpi. Dalam mimpinya, Qu Yuan mengatakan bahwa bacang yang dilemparkan oleh warga tidak dimakan oleh ikan-ikan, tetapi dimakan oleh naga. Qu Yuan mengatakan bahwa naga takut dengan daun bambu dan tali 5 warna. Qu Yuan menambahkan bahwa apabila bacang dibungkus dengan daun bambu dan diikat dengan tali 5 warna tersebut, tubuhnya akan aman dan terlindungi.

Setelah hari itu, masyarakat Cina terus memperingati hari Peh Cun setiap tanggal 5 bulan 5. Bahkan, bacang kini sudah menjadi makanan yang umum ditemukan di Indonesia.

Pengolahan Pangan

 

Food is an important of a balanced diet. -Fran Lebowitz

Pangan merupakan hal yang penting untuk menunjang kehidupan manusia. Oleh karena itu, pangan harus tetap ada dalam kehidupan manusia. Namun, tidak semua pangan memiliki umur simpan yang panjang. Buah, sayur, daging segar, susu segar, dan produk-produk segar lainnya merupakan contoh dari pangan yang memiliki umur simpan singkat.

Untuk memperpanjang umur simpan produk pangan dibutuhkan sebuah proses pengolahan. Selain untuk memperpanjang umur simpan, proses pengolahan juga dapat meningkatkan cita rasa dan nilai jual suatu produk pangan.

Dalam hal ini, beberapa jenis proses pengolahan pangan yang umum dilakukan untuk memperpanjang umur simpan adalah:

  • Pemanasan
  • Pendinginan
  • Pembekuan
  • Pengasapan
  • Pengalengan

Pemanasan merupakan proses pemberian panas  pada pangan. Beberapa contoh diantaranya adalah memasak, menggoreng, merebus, pasteurisasi, sterilisasi, dan blanchingBlanching adalah proses mencelupkan pangan ke dalam air panas (umumnya bersuhu 90-100℃) yang berfungsi untuk membunuh mikroba yang terdapat pada permukaan luar bahan pangan. Disisi lain, pasteurisasi adalah proses pemberian panas dengan suhu (80-90℃) yang bertujuan untuk mematikan mikroba patogen. Sterilisasi adalah proses pemberian panas (suhu lebih tinggi, sekitar 120℃) yang bertujuan untuk mematikan seluruh mikroba pada pangan.

Pendinginan merupakan proses penyimpanan bahan pangan pada suhu rendah (umumnya pada suhu 4℃ atau suhu kulkas). Proses ini bertujuan untuk menghambat pertumbuhan mikroba pada makanan sehingga mencegah terjadinya kebusukan atau kerusakan pada pangan.

Pembekuan merupakan proses penyimpanan bahan pangan hingga semua molekul air yang terdapat pada bahan pangan berubah menjadi kristal es (membeku). Proses pengolahan ini lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroba dibandingkan proses pendinginan.

Pengasapan merupakan proses “mematangkan” bahan pangan yang secara tidak langsung juga memberikan perlakuan panas pada bahan pangan. Umumnya, proses pengasapan dapat memberikan flavor baru sehingga cita rasa suatu pangan bertambah dan menjadi lebih enak.

Pengalengan merupakan proses penyimpanan pangan dalam kaleng yang sebelumnya sudah di sterilisasi terlebih dahulu, baik pangan maupun kalengnya. Proses ini harus dikontrol dengan baik untuk menghindari adanya kerusakan pangan akibat aktivitas dari Clostridium botulinum.

Penyerahan Berkas ke Dinkes Tangerang Selatan

Setelah menghadiri Penyuluhan Keamanan Pangan yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, kami mendapatkan sertifikan penyuluhannya. Oleh karena itu, berkas-berkas yang kami miliki sudah memenuhi sembilan syarat pengajuan izin P-IRT. Pada hari Kamis, 14 Juli 2016, kami mendatangi Dinas Kesehatan Tangerang Selatan dan bertemu dengan Bapak Hendra. Beliau adalah pihak yang bertanggung jawab terhadap penerimaan berkas-berkas pengajuan P-IRT. Setelah dilakukan pengecekan ulang terhadap kelengkapan berkas, Bapak Hendra membuatkan bukti penyerahan berkas-berkas dan ditandatangani oleh penyerah (kelompok Minjai) dan penerima (pihak Dinas Kesehatan).

Langkah selanjutnya yang kami lakukan adalah menunggu pihak Dinas Kesehatan Tangerang Selatan untuk menghubungi kami dan membuat janji untuk audit. Adapun waktu yang dibutuhkan sampai Dinas Kesehatan memeriksa berkas kami adalah selama 2 minggu dari tanggal penyerahan.

Hal ini kami lakukan sebagai tahapan terakhir untuk pengajuan izin P-IRT sebelum dilakukannya audit, dimana audit adalah penentu utama dari dapat atau tidaknya sertifikat P-IRT. Oleh karena itu, hal ini merupakan hal yang penting untuk dilakukan sebagai salah satu tahapan memperoleh sertifikat P-IRT. Karena apabila kami menunda penyerahan berkas, maka pengajuan dilakukannya audit juga menjadi lebih lama.

Penyuluhan Keamanan Pangan

Penyuluhan yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi pada tanggal 13 Juli 2016 ini membahas 2 topik utama, yaitu Higienitas dan Sanitasi Pengolahan Pangan, serta Keamanan Pangan IRT.

Sanitasi dan higienitas dibawakan oleh Bapak H. Deni Riswanto, AMK, S.Kep. pada kesempatan ini, Pak Deni lebih membahas mengenai kasus-kasus yang terjadi di wilayah Sukabumi. Berdasarkan tingkat kebersihan, makanan digolongkan menjadi 3, makanan tidak bersih, bersih, dan bersih dengan higiene. Umumnya, penjual hanya memikirkan laba semata dan tidak memperhatikan bahaya yang ditimbulkan apabila makanan yang dijualnya tidak diolah secara tepat. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi sering mengadakan sidak dan pembinaan terhadap penjual di pinggir jalan. Namun, umumnya tidak semua penjual mau dibimbing dan dibina. Hal ini yang menyebabkan masih begitu banyaknya makanan tidak sehat yang dijual di wilayah Sukabumi.

Salah satu topik pembinaan yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi adalah mengenai Makanan Jajanan Anak Sekolah, yaitu berfokus pada pedagang yang sering menjajakan dagangannya di sekolah. Salah satu contoh kasus penyidakan adalah sosis yang dilapisi telur dan dicelupkan ke dalam saus. Penyidakan berhasil menemukan bahwa telur yang digunakan oleh penjual adalah telur afkir, yaitu telur yang gagal dieram dan harganya lebih murah. Selain itu, sosis yang digunakan juga merupakan sosis dengan harga Rp 4000,- per bungkus dimana harga ini sangat tidak rasional untuk sebuah sosis sapi maupun ayam. Minyak yang digunakan untuk menggoreng juga merupakan minyak curah, bahkan ada yang ditambahkan dengan solar agar lebih hemat. Cara penggorengannya pun dilakukan dengan bantuan plastik dengan alasan agar makanannya renyah. Saus yang digunakan pada sosis juga merupakan saus dengan pewarna tekstil. Setelah itu, masih dalam keadaan panas, sosis telur yang sudah dilapisi saus dimasukkan ke dalam plastik tidak tahan panas. Dari sini dapat kita lihat bahwa pedagang jalanan tidak memiliki pengetahuan luas mengenai sanitasi dan keamanan pangan, dan hanya berfokus pada laba semata. Akan menjadi sangat berbahaya apabila banyak anak sekolah yang mengkonsumsi makanan tersebut dalam jangka waktu yang lama, dimana akan berisiko timbulnya berbagai penyakit.

Bahaya yang umum disebabkan akibat keracunan makanan atau mengkonsumsi makanan tidak sehat sangat komprehensif. Mulai dari masuknya makanan ke dalam mulut, semakin lama gigi akan berubah warna. Pada dasarnya, gigi memang akan berubah warna seiring bertambahnya usia. Namun, apabila mengkonsumsi makanan tidak sehat, gigi akan lebih cepat mengalami perubahan warna. Setelah itu, makanan dikunyah dan ditelan, dapat menyebabkan penyakit tonsilitis atau infeksi amandel. Umumnya disebabkan karena makanan terlampau panas atau pedas sehingga tidak dapat diterima oleh tubuh. Makanan yang sudah ditelan kemudian dicerna oelh lambung dan usus. Diare, maag, sakit perut adalah hal yang paling umum disebabkan karena konsumsi makanan kotor dan tidak sehat. Oleh karena itu, Bapak Deni menganjurkan untuk selalu mengonsumsi makanan sehat. Apabila ingin membeli makanan di pinggir jalan maka usahakan untuk memilih makanan yang minimal tergolong ke dalam kategori bersih.

Apabila dilihat dari segi produksi, tidak sedikit juga industri rumah tangga yang tidak menerapkan sanitasi dan higiene. Dari beberapa kasus yang sudah pernah ditemui, berikut adalah saran yang diberikan:

  1. Jangan menggabungkan tempat produksi dengan hewan
  2. Jangan mencuci bahan baku menggunakan air kotor, gunakan air mengalir
  3. Wadah yang digunakan sebagai alas produksi harus bersih dan tidak boleh yang dapat bereaksi dengan makanan. Jangan menggunakan karet latex karena pada suhu panas, karet dapat menempel ke makanan. Gunakan keramik sebagai alas yang paling baik.
  4. Jangan produksi makanan saat sedang sakit

Ada kalanya konsumen tidak dapat mengontrol produsen dalam membuat makanannya. Hal yang harus kita terapkan untuk menghadapi hal ini adalah menerapkan proses pengolahan yang maksimal agar makanan yang dikonsumsi tetap aman. Seperti contoh, memasak sampai matang, serta menggunakan kemasan yang aman (bukan styrofoam atau plastik tidak tahan panas).

Topik kedua yang dibawakan dalam penyuluhan adalah hal-hal yang harus diketahui dan diterapkan pada produk sebelum mengajukan perizinan PIRT. Sesi ini dibawakan oleh Bapak Robi Djauhari. Materi yang dibawakan adalah sebagai berikut:

  1. Peraturan perundang-undangan
  2. Teknologi pangan untuk IRTP
  3. Bahan Tambahan Pangan
  4. Kemasan dan Label Pangan IRTP
  5. Penerapan CPPB-IRT

Label pangan harus memuat beberapa hal seperti nama produk, berat bersih, komposisi, alamat produsen, tanggal kadaluarsa, kode produksi, dan nomor PIRT. Label merupakan hal yang dilihat konsumen dalam menentukan keputusannya untuk membeli suatu produk. Oleh karena itu, label harus dibuat semenarik mungkin, mudah dibaca, dan tidak luntur. Label juga tidak boleh bersifat menyesatkan baik dalam hal gambar maupun tulisan. Dalam label pengajuan PIRT, tidak boleh tercantum khasiat produk. Menentukan tanggal kadaluarsa juga harus diberi selang waktu antara saat produksi hingga suatu kerusakan terdeteksi. Seperti contoh, dalam pengujian 1 minggu, sebuah produk masih enak. Minggu ke dua, produk sudah tengik dan tidak enak. Artinya, tanggal kadaluarsa produk adalah 1 minggu. Kode produksi juga merupakan kode unik yang dibuat sendiri oleh produsen. Kode produksi memuat tanggal dan batch produksi, dimana kode ini merupakan kode unik yang tidak boleh diketahui oleh IRT lain. Kemasan yang digunakan untuk membungkus makanan juga dibedakan menjadi 3, yaitu kemasan primer, sekunder, tersier, dan kuarterner. Disisi lain, berdasarkan masa pakai, kemasan dibagi menjadi 3 yaitu sekali pakai, semi dispossable, dan dipakai berulang. Apabila dikaitkan dengan keripik singkong Minjai, maka kemasan yang digunakan adalah kemasan primer sekali pakai, karena kemasan yang digunakan langsung kontak dengan makanan dan hanya sekali pakai.

Manajemen & Konsultan

Dalam menjalankan sebuah usaha tentu diperlukan sebuah manajemen yang baik. Apabila manajemen yang diterapkan baik, besar kemungkinan usaha tersebut dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Suatu manajemen yang baik dapat dilihat dari:

  1. Kemampuannya dalam membuat keputusan (decision making) – 25%
  2. Kemampuannya dalam menyusun rencana (planning) – 25%
  3. Kemampuannya dalam pencapaian (delivery) – 10%
  4. Kemampuannya dalam memecahkan masalah (problem solving) – 10%
  5. Kemampuannya dalam berkomunikasi (communication) – 10%
  6. Kemampuannya dalam menjual (salesmanship) – 10%
  7. Lain-lain: misalnya empati, kemampuan mendengar saran orang, ketegasan dalam bersikap, bersemangat atau tidak – 10%

Disisi lain, sebuah usaha dapat meminta bantuan pada konsultan dalam membimbing setiap langkah yang dikerjakan. Konsultan akan memberikan saran dan arahan agar manajemen sebuah usaha tidak salah dalam mengambil keputusan. Konsultan kerja yang baik dapat dinilai dari:

  1. Perencanaann kerja – 10%
  2. Penguasaan masalah – 20%
  3. Komunikasi dan koordinasi – 20%
  4. Pelaksanaan kerja – 20%
  5. Support – 10%
  6. Jaringan – 10%
  7. Inisiatif – 10%

Baik dari segi manajemen maupun konsultan, terdapat beberapa aspek yang dinilai sebagai prioritas/lebih penting, dan diikuti aspek lain sebagai pendukungnya. Hal ini dapat dilihat pada setiap aspek terdapat proporsi dalam %, yang apabila dijumlahkan dengan aspek pendukung lainnya akan memberikan proporsi 100%.